Langkah yang Menyuburkan Pohon Takwa



Hati (qalb) manusia itu ibarat lahan tempat bertanam dan jiwa (nafs) adalah petaninya. Setiap petani bebas menanam apa saja yang disukai dan menguntungkan di lahan miliknya. Dia bebas menentukan pupuk apa yang akan digunakan agar tanaman tumbuh subur. Bersamaan dengan itu, dia juga bebas menggunakan pestisida apa saja untuk menjaga tanamannya dari gangguan hama dan penyakit.

Demikianlah tamsil manusia dengan amalnya. Sejak lahir, di dalam setiap jiwa manusia, Allah SWT menyimpan dua benih, yaitu benih fujur (kefasikan) dan benih takwa (kebaikan). Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam QS Asy-Syams: 8-10, "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya."

Petani cerdas tentu saja akan menanam benih takwa di lahan kalbunya dan membiarkan benih fujur tumbuh kerdil dan merana. Dia akan memupuk benih takwa itu dengan Alquran dan sunah sebagai hara utama. Lalu menyiraminya dengan air hikmah, berupa ucapan dan perilaku para salafush shalih.

Bersamaan dengan itu, dia juga berusaha menjauhi segala bentuk maksiat agar tanaman terhindar dari hama dan penyakit. "Dan tanah yang subur, tanamannya tumbuh baik dengan izin Allah, sebaliknya tanah yang gesang tanamannya tumbuh kerdil ...." (QS Al-A'raf [7]: 58).

Tanaman seperti inilah yang diumpamakan oleh Allah SWT dalam QS Ibrahim [14]: 24-25. "Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat."

Betapa indah pohon takwa Rasulullah SAW. Banyak orang melemparinya dengan batu, cacian, dan berbagai fitnah, tapi Rasul SAW selalu membalasnya dengan buah senyum dan kasih sayang.

Begitu pula dengan pohon takwa Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib Radliyallahu anhum, dan para sahabat lainnya yang selalu berbuah akhlaqul karimah. Mereka, generasi pertama Islam yang selalu menjadikan Alquran dan sunah sebagai referensi utama, hingga Aisyah RA menyebut akhlak Rasulullah SAW sebagai Khuluquhul Qur`an (akhlak Rasulullah adalah Alquran).

Bagimana dengan generasi Islam saat ini, apa yang menjadi referensi utama mereka
dalam berucap dan bertindak? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para orang tua dan pemimpin Islam saat ini. Wallahu  a'lam.
 Sumber : Akmal Umam

Kedahsyatan Efek Berbaik Sangka



Selain doa dan ikhtiar, ada amalan lain yang juga bisa mengantarkan proses 'perubahan takdir'. Amalan itu adalah amalan hati, yaitu selalu berbaik sangka (husnuzhan) dengan semua keputusan Allah SWT. Berbaik sangka merupakan produk dari olahan kekuatan iman. Tidak mungkin seseorang memiliki kemuliaan akhlak berupa husnuzhan, jika tidak yakin dengan segala sesuatu yang sudah diputuskan Allah
Seseorang yang mengaku beriman sadar benar bahwa dari setiap peristiwa maka Allah telah mentransformasikan mutiara hikmah untuk manusia. Yakni, sesuatu yang berharga yang hilang milik orang beriman (al-Hikmatu zhalatul mu'minin). Artinya, kejadian yang menimpa kita, pasti ada kadar atau nilai berharga yang sudah dipersiapkan untuk kita. Namun, sementara ini belum ditemukan. Karena itulah, kata Imam Ali karramallahu wajhah, ''Jika kita menemukannya, segeralah diambil; fain wajadaha akhadzaha.''
Pertanyaannya, bagaimana bisa mengambil barang berharga itu, sementara kita sulit untuk mendeteksinya. Di sinilah peranan amalan hati, yaitu husnuzhan. Jika kita mempersangkakan bahwa ada banyak kebaikan yang telah Allah sediakan untuk kita dari takdir-Nya itu, akan benarlahpersangkaankita.

Karena itu, bagaimana rupa takdir kita ke depan, turut ditentukan dari persangkaan kita terhadap-Nya. Simak Hadis Qudsy berikut, Anaa 'inda zhanni 'abdi bih, wa Ana ma'aka idza da'awtani, "Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku tentang Aku. Dan aku bersamamu jika memohon-kepada-Ku."

Dengan demikian, husnuzhan bisa mengantarkan seseorang meraih apa yang diharapkan. Kalaulah saat ini kita sedang berduka karena kegagalan, bersegeralah husnuzhan bahwa akan ada kebaikan setelah kegagalan itu. Yakinlah bahwa takdir kita ke depan pasti dipenuhi dengan takdir kesuksesan. Tetaplah optimis. Selama hari masih menjelang, kesempatan meninggalkan kegelapan malam masih selalu terbuka. Dan, kita akan berada di jalur siang yangterangbenderang.

Keberuntungan orang yang husnuzhan, tak hanya didapatkan di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Rasul menyebut orang yang husnuzhan sebagai pemegang kunci surga. Dalam sebuah taklim di hadapan para sahabatnya, Rasul mengatakan bahwa sebentar lagi akan masuk seorang yang kelak akan memegang kunci surga. Semua sahabat terpana. Sampai seorang Umar bin Khattab 'iri' dengan penyematan istilah tersebut. Tidak lama kemudian masuklah orangyangdimaksud.

Orang ini penampilannya biasa-biasa saja. Tidak ada ciri khusus. Karena penasaran, Umar meminta izin untuk menginap di rumah orang tersebut. Tiga hari Umar RA menginap di rumah orang ini. Namun, dia tidak menemukan amalan khusus orang tersebut.

Ketika Umar bertanya, apa rahasianya. Orang itu menjawab, "Ibadah dan amalanku sebenarnya biasa saja, wahai Umar. Hanya selama hidupku, aku diajari oleh ibuku untuk tidak punya perasaan buruk sangka terhadap apa pun dan siapa pun. Barangkali itulah amalan yang dimaksud Rasulullah SAW."


Sumber : Akmal Umam

Saling Memuliakan


Diceritakan, Zaid ibn Tsabit, seusai pemimpin shalat jenazah, langsung menuju kendaraan (bighal)-nya yang diparkir tak jauh dari masjid. Tiba-tiba datang Abdullah ibn Abbas, memegang kendali bighal dan mengemudikannya. Zaid mencegahnya, tetapi Abdullah terus mengemudikannya sambil berkata: “Demikian aku diperintah (oleh Rasul) untuk menghormati ulama.” Zaid lantas meminta Abdullah menjulurkan tangannya. Ia pun memberikannya, lalu Zaid memegang dan menciumnya berkali-kali. Katanya, “Demikian aku diperintah (oleh Rasul) untuk menghormati dan mencintai keluarga Nabi.” (HR Hakim dalam al-Mustadark).

Sungguh menarik apa yang diperlihatkan oleh dua orang tokoh sahabat Nabi itu. Abdullah tidak ragu-ragu memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Zaid, teman dan senior-nya yang dikenal sebagai ulama. Seperti diketahui, Zaid adalah penulis wahyu pada masa Nabi. Ia juga ketua Tim Sembilan yang ditunjuk oleh Khalifah Utsman untuk merampungkan tugas kodifikasi Alquran. Zaid juga merupakan salah seorang imam bacaan Alquran (imam al-qira’ah) di Madinah.

Penghormatan Abdullah kepada Zaid dapat dipandang sebagai penghormatan karena ilmu. Seperti dimaklumi, Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan dan memuliakan orang-orang yang berilmu (ulama). Nabi Adam AS, seperti dikisahkan dalam Alquran, dinobatkan sebagai khalifah, mengalahkan kompetitor terberatnya, yaitu para malaikat, adalah karena ilmu atau potensi intelektualitasnya. (QS al-Baqarah [2]: 30). Allah SWT sendiri memberikan kemuliaan kepada para ulama beberapa derajat. (QS al-Mujadilah [58]: 11).

Meskipun dimuliakan sebagai ulama, Zaid ibn Tsabit tidak lantas membusungkan dada. Ia tetap rendah hati (tawadhu`). Ia mencium tangan Abdullah berkali-kali sebagai penghormatan dan ekspresi cinta kepada keluarga Nabi. Seperti diketahui, Abdullah adalah sepupu Nabi, anak pamannya, Abbas ibn Abd al-Muthtalib. Nabi SAW sangat mencintai Abdullah. Sewaktu kecil, Abdullah pernah didoakan oleh Nabi agar pandai dalam agama dan tafsir.

Penghormatan Zaid kepada Abdullah dapat dipandang sebagai penghormatan kepada keluarga Nabi. Setiap Muslim sudah sepatutnya menghormati dan mencintai keluarga Nabi. Dalam shalat kita diperintahkan agar berselawat kepada Nabi SAW dan kepada keluarganya, “Allahumma shalli `ala Muhaammad wa `ala ali Muhammad.” Dalam Alquran disebutkan bahwa Allah melimpahkan rahmat dan keberkahan kepada kelurga Nabi. “Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." (QS Hud [11]: 73).

Pada masa kita sekarang, adab saling mencintai dan menghormati ini dirasakan semakin langka dan semakin menjauh dari kehidupan kita. Pasalnya, dalam banyak hal, kita bukan saling menghormati, melainkan saling merendahkan. Ironisnya lagi, para pemimpin, tokoh, dan pemuka masyarakat justru saling bertengkar, saling menghujat, dan saling merendahkan satu dengan yang lain. Maka itu, kita perlu belajar lebih banyak lagi dari teladan Nabi SAW dan para sahabat-nya. Wallahu a`lam

Sumber : Akmal Umam

PUASA BAGI ORANG YANG SEDANG HAMIL ATAU MENYUSUI




Yang penting diketahui sekitar persoalan fidyah dan mengqadla' puasa adalah hal-hal berikut:
  1. Dalam keadaan berpuasa seorang istri yang sedang hamil, apabila khawatir terhadap kesehatan diriya dan anak yang dikandungnya, maka diperbolehkan tidak berpuasa. Firman Allah : "Dan bagi orang yang mampu menjalankan puasa (tapi tidak menjalankannya karena merasa terlalu berat) maka wajib membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin." (Al-Baqarah: 184) Dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda "Allah SWT melepaskan kewajiban shalat (pada waktunya) bagi musafir, dan melepaskan tanggungan puasa atas musafir, perempuan yang hamil, dan yang menyusui." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Baihaqi).
  2. Para ulama berbeda pendapat dalam apakah perempuan yang hamil dan yang menyusui diwajibkan mengqadla' dan membayar fidyah, atau cukupkah dengan mengqadla' saja (tanpa membayar fidyah), atau sebaliknya hanya membayar fidyah saja? (Silahkan Anda memilih sendiri mana yang paling cocok dengan keadaan Anda). Pendapat pertama (Ibnu Abbas dan Ibnu 'Umar): Jika keduanya (perempuan yang hamil dan yang menyusui) mengkhawatirkan kesehatan janin dan anaknya, maka hanya diwajibkan membayar fidyah (tanpa mengqadla'). Kedua (Hanafi): Sebaliknya, keduanya hanya diwajibkan mengqadla' puasa yang diitinggalkan (tanpa membayar fidyah). Ketiga (Maliki): Orang yang hamil hanya wajib mengqadla' saja (tanpa membayar fidyah), namun orang yang menyusui diwajibkan membayar fidyah dan mengqadla. Keempat (Syafi'i dan Ahmad): keduanya hanya diwajibkan mengqadla' saja jika mengkhawatirkan kesehatan diri dan anaknya. Namun jika hanya mengkhawatirkan kesehatan anaknya saja, maka wajib mengqadla' dan membayar fidyah.
  3. Mengenai mengakhirkan qadla' puasa Ramadlan hukumnya boleh-boleh saja selama tidak sampai menjelang Ramadlan berikutnya. Namun begitu, jika tidak ada halangan (seperti bepergian, bekerja keras, sakit, dan udzur-udzur lainnya), hendaknya secepatnya mengqadla'.

    Adapun seperti yang dikisahkan Sayidah Aisyah bahwa kebiasaan istri-istri Rasulullah tidak segera mengqadla Ramadlan sampai datang bulan Sya'ban (HR. Muslim) itu tidak sepenuhnya bisa dijadikan landasan dalam persoalan penundaan qadla' puasa ini. Karena kebiasaan mereka (istri-istri Rasul) seperti itu hanya berdasar kekhawatiran jika sewaktu-waktu Rasulullah membutuhkan (hajat biologis) mereka. Karena mereka tidak tahu pasti kapan Rasul akan membutuhkan mereka. Mereka beri'tikad baik senantiasa menyiapkan diri kapan saja bila Rasul membutuhkan. Dan itu mesti tidak dengan melakukan puasa. Sehingga mereka baru melakukan qadla' puasa pada bulan Sya'ban, saat mana Rasul biasa berpuasa pada sebagian besar bulan Sya'ban tersebut.

    Dengan demikian, seorang istri yang sudah ditinggal mati suaminya tidak perlu ikut-ikutan mengqadla' puasa sampai datangnya Sya'ban.
  4. Jika belum mengqadla' sampai memasuki/menjelang Ramadlan berikutnya, hendaknya segera mengqadla' pada hari-hari yang tersisa (dari bulan Sya'ban) dan melanjutkan sisanya seusai Ramadlan. Apabila penundaan qadla' dikarenakan adanya halangan seperti sakit atau perjalanan yang berkepanjangan sampai datang bulan puasa berikutnya, para ulama sepakat bahwa qadla' bisa dilakukan seusai bulan puasa berikutnya dan tidak diwajibkan membayar fidyah. Namun bila penundaan itu dilakukannya secara sengaja (tanpa ada halangan) maka diwajibkan membayar fidyah dan mengqadla'.

Sumber : Akmal Umam

MEMINDAHKAN MAKAM




ass wr wb.
         pak ustadz. saya ingin menanyakan apa yang harus kami lakukan sebelumnya apabila akan memindahkan kerangka alm.ibu dari kalimantan timur ke magelang. Insya allah akan kami lakukan tanggan 7-nov-2011.beliau meninggal pada tanggal 2-mei-2002.alasan kami memindahkan beliau adalah supaya makam akan lebih terawat mengingat putra putrinya dan familinya masih banyak yang tinggal di jawa, sehingga akan memudahkan berziarah.terimakasih pak ustadz.... saya tunggu infonya. Wass dari Hj. asih Pratiwi tenggarong kalimantan timur
Asih Pratiwi

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb
         Saudara Asih Pratiwi yang dimuliakan Allah swt
Jumhur fuqaha berpendapat bahwa tidak boleh memindahkan kerangka mayat yang telah dikuburkan dari satu tempat ke tempat lainnya kecuali darurat, seperti : si mayat dikuburkan dalam keadaan belum dimandikan, dikuburkan tidak menghadap kiblat, menggunakan kain kafan atau tanah dari hasil rampasan.
         Tentang permasalahan ini, Markaz al Fatwa mengatakan bahwa memindahkan tulang belulang mayat dari kuburannya ke tempat lainnya untuk keperluan mayat yang baru atau untuk seseorang yang masih hidup tidaklah dibolehkan karena tempat yang didalamnya dikuburkan seorang muslim adalah wakaf baginya selama masih tersisa padanya daging atau tulang. Selama masih tersisa padanya sesuatu dari hal-hal diatas (daging atau tulang) maka ia adalah kehormatannya bagi seluruh tubuhnya.
         Didalam “al Manhaj” disebutkan bahwa pembongkaran kuburan setelah ia dimakamkan untuk dipindahkan atau keperluan lainnya adalah diharamkan kecuali darurat… (Markaz al Fatwa No. 63035)
         Berdasarkan penjelasan diatas maka tidak diperbolehkan bagi anda memindahkan kerangka alm. ibu anda dari kuburannya yang lama ke tempatnya yang baru kecuali darurat. Adapun alasan agar kuburannya kelak—jika dipindahkan—bisa diurus dengan baik atau berada diantara anggota keluarganya maka tidaklah termasuk darurat. Terlebih lagi jika tempat pemakaman ibu anda saat ini—Kalimantan Timur—adalah pemakaman kaum muslimin maka ia berada di dekat keluarganya atau tidak adalah sama.


Sumber : Akmal Umam

Jaringan Iblis Yang Berbahaya


Siapa Iblis?
Iblis adalah makhluk dari bangsa Jin (QS.18. Al-Kahfi : 50)
Iblis diciptakan dari api (QS.55. Ar-Rahman : 15).
 Pada mulanya Iblis adalah makhluq yang tekun ibadah kepada Allah SWT, namun menjadi makhluq terkutuk tatkala menolak mematuhi perintah Allah SWT untuk sujud kepada Adam AS dengan dalih bahwa dia diciptakan dari api, sedang Adam AS diciptakan dari tanah (QS.7. Al-A'raf : 12).
 Iblis dikutuk dan diusir dari surga (QS.15. Al-Hijr 34-35), serta ditetapkan sebagai penghuni neraka jahannam (QS.38. Shaad : 85).
Setelah dikutuk, Iblis mengajukan permohonan penangguhan kepada Allah SWT hingga Hari Qiyamat. Permohonannya dikabulkan, lalu Iblis pun bersumpah akan menyesatkan anak cucu Adam AS (QS.15. Al-Hijr : 36-40).
 Lalu Iblis menggoda Adam dan Hawa, 'alaihimas salam, hingga keduanya masuk perangkapnya. Allah SWT pun mengeluarkan Adam dan Hawa, 'alaihimas salam, dari surga, tapi kemudian Allah SWT menerima taubat keduanya (QS.2. Al-Baqarah : 36-37).
Iblis Bertauhid?
Ada orang mengatakan bahwa penolakan Iblis untuk sujud kepada Adam AS merupakan bukti kelurusan Tauhid Iblis. Karena Iblis hanya mau sujud kepada Allah SWT, bukan kepada makhluq, sesuai pernyataan Iblis bahwa dia tidak akan sujud kepada manusia yang mana pun (QS.15. Al-Hijr : 33)..
Jawabnya, pada mulanya Iblis memang bertauhid kepada Allah SWT. Namun, tatkala Iblis menolak mematuhi perintah Allah SWT dengan sikap membangkang, maka Tauhidnya gugur. Dalam Syariat Nabi Muhammad SAW memang diharamkan sujud kepada makhluq, tapi ketika penciptaan Adam AS, Syariat Nabi Muhammad SAW belum ada. Justru, Allah SWT sebagai pembuat Syariat yang memerintahkan Iblis untuk sujud kepada Adam AS, sehingga sujud kepada Adam AS bagi Iblis pada waktu itu adalah syariat Hukum Allah SWT yang harus dipatuhi oleh Iblis dan Malaikat.
Sama halnya dengan menyembelih anak kandung diharamkan dalam Syariat Nabi Muhammad SAW, tapi itu tidak berlaku pada saat Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, sebagai ujian. Justru, ketika itu penyembelihan Nabi Ismail AS bagi Nabi Ibrahim AS adalah syariat Hukum Allah SWT yang mesti ditaati. Akhirnya, ketika Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, 'alaihimas salam, lulus ujian, maka Allah SWT menggantikannya dengan seekor kambing kibas yang bagus untuk dikurbankan.
Selain itu, pengertian Tauhid tidak hanya terbatas kepada "Uluhiyyah" yaitu pengakuan bahwa Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang menciptakan Alam Semesta dan yang memilikinya serta yang menjamin rizqi makhuq-Nya. Tapi pengertian Tauhid juga harus mencakup "Ubudiyyah" yaitu pengakuan bahwa Tuhan Yang Maha Esa yang mencipta Alam Semesta dan memilikinya serta menjamin makhluq-Nya adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan dipatuhi serta ditaati.
Karenanya, walau pun Iblis mengakui "Uluhiyyah" hanya untuk Allah SWT, namun pembangkangannya terhadap perintah Allah SWT menunjukkan tidak adanya pengakuan "Ubudiyyah" hanya untuk Allah SWT. Dengan demikian, Iblis tidak lagi bertauhid kepada Allah SWT, melainkan sudah kafir, karena Tauhid itu satu dan tidak berbilang, sehingga Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Ubudiyyah merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dan tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu sudah sepantasnya Iblis dikutuk oleh Allah SWT.
Penangguhan dan Sumpah Iblis
Kenapa permohonan penangguhan Iblis dikabulkan oleh Allah SWT? Ada sejumlah jawaban yang diberikan Ulama : Pertama, sebagai bukti Keadilan Allah SWT yang memberi ganjaran kepada Iblis atas ibadah yang pernah dilakukannya selama ribuan tahun sebelum Adam AS diciptakan, sehingga Iblis ditangguhkan juga selama ribuan tahun hingga Hari Qiyamat. Kedua, agar Iblis tidak punya hujjah di kemudian hari untuk menuntut Allah SWT atas ibadah yang pernah dilakukannya. Ketiga, sebagai ujian bagi anak cucu Adam AS. Wallahu A'lam.
Pembangkangan Iblis terhadap perintah Allah SWT sehingga tidak mau sujud kepada Adam AS, lahir dari sifat Takabbur dan Hasud. Iblis takabbur karena merasa diri lebih mulia daripada Adam AS (QS.2. Al-Baqarah : 34).
Itu tercermin dari dalih yang digunakannya saat menolak sujud kepada Adam AS, yaitu bahwa Iblis diciptakan dari api, sedang Adam AS diciptakan dari tanah. Ada pun Iblis hasud karena iri dan dengki terhadap kemuliaan Adam AS yang dianugerahkan Allah SWT (QS.7. Al-A'raf : 12).
Sumpah Iblis di hadapan Allah SWT Untuk menyesatkan anak cucu Adam AS adalah bentuk dendam kesumat (QS.15. Al-Hijr : 49).
Dendam karena kecewa dan sakit hati terhadap manusia yang dianggap menjadi penyebab Iblis diusir dari surga dan dikutuk oleh Allah SWT, serta akan disiksa kelak dalam neraka jahannam. Kesumat karena dendam tersebut akan berlangsung turun menurun sampai Hari Qiyamat.
Visi Misi Iblis
Visi Iblis adalah pelampiasan dendam terhadap manusia, sedang Misi Iblis adalah menyesatkan manusia. Dalam rangka mensukseskan Visi Misi tersebut, maka Iblis sejak awal telah menetapkan Target dan Strategi serta Tak-Tik untuk melumpuhkan manusia. Dalam Visi Misi Iblis yang menjadi Target adalah "Buat manusia durhaka kepada Allah SWT", dengan Strategi "Halangi manusia dari jalan lurus". Ada pun Tak-Tik nya adalah "Manfaatkan kelemahan manusia", karena Iblis tahu benar bahwa manusia itu lemah (QS.4. An-Nisaa' : 28)
 dan penuh keluh kesah (QS.70. Al-Ma'aarij : 19)
 serta selalu tergesa-gesa (QS.17. Al-Isra' : 11).
Kelemahan manusia yang paling mencolok adalah "Takut miskin", dan "Ingin aman dari kemiskinan" serta memiliki "Hawa nafsu". Oleh karenanya Tak-Tik Iblis dalam memanfaatkan kelemahan manusia antara lain : Pertama, eksplorasi besar-besaran rasa takut manusia terhadap lapar dan kemiskinan serta masa depan (QS.2. Al-Baqarah : 268).
 Kedua, dorong rasa ingin aman dari lapar dan kemiskinan dengan menjadikan materi sebagai pengaman (QS.4. An-Nisaa' : 119).
  Ketiga, kembangkan hawa nafsu manusia untuk meraih aman selamanya dengan menjadikan hawa nafsunya sebagai sesuatu yang terlihat bagus dalam pandangannya, selanjutnya jadikan materi sebagai tujuan (QS.6. Al-An'aam : 43).
 Dengan tak-tik inilah, Iblis ingin menjadikan manusia sebagai makhluq materialisme yang serakah.
Iblis mengeksplorasi nafsu serakah manusia agar manusia menjadi serakah harta dan kekayaan, serakah jabatan dan kedudukan, serakah kewenangan dan kekuasaan, serta serakah penghormatan dan pujian, bahkan serakah hidup hingga cinta dunia dan takut mati. Dari sini Iblis mendorong manusia untuk menguasai ekonomi dan keuangan dunia serta mengendalikan politik untuk melindungi keserakahannya. Selanjutnya, Iblis selalu menuntun manusia untuk memperbudak manusia lainnya dengan menguasai sumber daya manusia serta menghisapnya sebanyak-banyaknya dan selama-lamanya hanya untuk memenuhi nafsu serakahnya. Orang bijak pernah berkata : "Dunia dan isinya cukup untuk memenuhi kebutuhan SEMUA manusia, tapi takkan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan SEORANG manusia."
Iblis akan terus menerus mengeksplorasi nafsu serakah manusia, sehingga manusia merasa diri sebagai "Tuhan", dimana kehendaknya harus berlaku, ucapannya menjadi putusan hukum yang harus dipatuhi, tidak boleh dikritik apalagi diprotes, dan dia tidak mau tunduk kepada siapa pun, termasuk kepada Tuhan yang sebenarnya yaitu Allah SWT.
Jaringan Kerja Iblis
Visi dan Misi Iblis terlalu besar, sehingga mustahil dikerjakan sendiri, karena pelampiasan dendam terhadap SEMUA manusia dengan menyesatkan SEMUA anak cucu Adam AS di atas muka Bumi yang luas merupakan hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh Iblis sendirian. Karenanya, Iblis merekrut pengikut dari kalangan jin dan manusia sebanyak-banyaknya, serta membuat network (Jaringan Kerja) seluas-luasnya.
Jaringan Kerja Iblis  memiliki banyak "kegunaan" bagi Iblis dalam melaksanakan Visi dan Misinya, antara lain :
Pertama, meringankan beban, karena menyesatkan milyaran manusia menjadi beban sangat berat bagi Iblis.
Kedua, memudahkan kerja, karena menyesatkan manusia banyak sepanjang zaman adalah pekerjaan sangat sulit bagi Iblis.
Ketiga, menguatkan visi misi, karena visi misi Iblis tidak mungkin bahkan mustahil dikerjakan sendirian.
Keempat, memaksimalkan kerja dan mengoptimalkan hasil, yaitu dengan jaringan kerja Iblis yang terorganisir maka kerja dan hasilnya bisa maksimal dan optimal.
Kelima, mencapai target, yaitu dengan jaringan kerja Iblis yang tersistem maka menjamin pencapaian target yang diinginkan Iblis.
Lalu siapakah yang menjadi Jaringan Iblis?
Pertama: yang pasti adalah keturunan Iblis, karena di dalam Al-Qur'an dinyatakan bahwa Iblis dan keturunannya menjadi musuh bagi umat manusia (QS.18. Al-Kahfi : 50)
Kedua: adalah kelompok Kafir dan Munafiq dari kalangan manusia dan jin, dalam Al-Qur'an disebut sebagai Syetannya manusia dan jin (QS.6. Al-An'aam : 112)
Di kalangan manusia, Iblis membuat jaringan besar dan luas dengan aneka kelompok dan jenisnya yang tersebar di seluruh muka Bumi, antara lain yang terbesar dan sangat berbahaya adalah :
 Pertama, kelompok Zionis yang selalu memusuhi Islam dan berupaya menghancurkannya dengan cara keji dan biadab.
Kedua, kelompok Misionaris yang selalu berupaya memurtadkan umat Islam dengan berbagai macam cara, mulai dari bujuk rayu hingga pemaksaan.
Ketiga, kelompok Musyrik yang membudayakan dan melestarikan berbagai kemusyrikan di tengah masyarakat.
Keempat, kelompok Atheis yang menentang eksistensi Tuhan dan agama.
Kelima, kelompok Aliran Sesat yang menyebarluaskan ajaran sesat dan menyesatkan di tengah umat, termasuk perdukunan dan para pemuja Syetan.
Keenam, kelompok Ahli Ma'siat yang selalu menyebarluaskan kemunkaran untuk merusak Aqidah, Syariat dan Akhlak umat Islam, ini mencakup semua sindikat kejahatan dalam bidang korupsi, pencurian, penipuan, perampokan, perzinahan, pelacuran, pemerkosaan, pornografi, pornoaksi, perjudian, minuman keras, narkoba, premanisme, penjualan manusia merdeka, hingga penculikan, penganiayaan dan pembunuhan..
Dalam QS.4. An-Nisaa' : 76, Allah SWT menyatakan dalam firman-Nya,
 yang artinya : "Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang Kafir berperang di jalan Thoghut, maka perangilah para pengikut syetan itu, karena sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah." Ini adalah info ilahi yang luar biasa, yang menguak tabir rahasia kekuatan Iblis dan bala tentara syetannya.
Berdasarkan ayat tersebut, ternyata visi misi Iblis dengan semua target, strategi, tak-tik dan programnya beserta segala kekuatan ekonomi, sosial, politik, teknologi, komunikasi, informasi hingga militernya, berikut segenap kecanggihannya di seluruh dunia, adalah LEMAH. Bahkan Iblis sendiri mengaku bahwasanya ia takkan mampu mengalahkan dan menguasai hamba-hamba Allah SWT yang ikhlash dalam beriman dan beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam QS.15. Al-Hijr : 40.
Karenanya, Allah SWT mewasiatkan kepada orang yang beriman dalam QS.4. An-Nisaa' : 104
 yang artinya : "Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan sebagaimana kamu menderitanya. Sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Dengan ayat ini, ada berita besar berharga bahwasanya musuh Islam ternyata tidak sebesar dan sekuat serta sehebat yang dibayangkan sementara orang. Jika pembela Allah SWT menderita dalam melawan musuh Allah SWT, ternyata pembela Iblis juga menderita dalam melawan musuh Iblis. Jika para pejuang Allah SWT mengeluarkan tenaga, pikiran dan harta yang besar dalam melawan musuh, pusing memikirkan lawan, sibuk membuat strategi, lelah mengayunkan langkah, kurang tidur dan tak ada waktu untuk istirahat, lalu terluka dan terbunuh, maka ternyata para musuh Allah SWT juga akan merasakan hal yang sama. Bahkan penderitaan musuh Allah SWT lebih parah, karena mereka tak ada harapan mendapat rahmat dan ridho Allah SWT, sedang para pejuang Allah SWT dengan segala penderitaannya senantiasa memiliki harapan mendapat rahmat dan ridho Allah SWT.
Dan dengan ayat ini pula, umat Islam mendapat isyarat ilahi bahwasanya jika para pembela Iblis berani menderita, bahkan siap mati untuk meraih ridho Iblis dan masuk Neraka Jahannam, maka para pejuang Allah SWT harus lebih siap menderita, dan lebih siap mati untuk meraih ridho Allah SWT dan masuk ke dalam surga-Nya.!
Hasbunallaahu wa Ni'mal Wakiil, Ni'mal Maulaa wa Ni'man Nashiir.


Sumber : akmal umam